Reaksi Anak Bupati Klaten Tahu Ibunya Ditangkap KPK:Harta yang Ada Sebenarnya Lebih dari Cukup

0
480
loading...

2

Dua anak Bupati Klaten Sri Hartini, Andy Purnomo dan Dina Permatasari, menyesali ibundanya terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena menerima suap dengan barang bukti lebih Rp2,1 miliar.

Mereka tak percaya ibunya tersebut mencari pemasukan lain dengan cara seperti itu. Sebab, saat ini harta benda ibundanya sudah lebih dari cukup.

“Keluarganya semua pada kaget. Anak-anaknya juga. Anaknya bilang, ‘Nggak harus melαkukαn begitu aja, nggak harus berbuat begitu (menerima suap,-red) ), sebenarnya yang sudah ada sudah lebih dari cukup’. Yah mereka kaget dan sedih kenapa sampai begitu,” ujar kuasa hukum Sri Hartini, Deddy Suwadi, kepada Tribun, usai mendampingi pemeriksaan dan penahanan Sri di kantor KPK, Jakarta, Sabtu (31/12/2016) malam.

Menurut Deddy, anak pertama Sri Hartini, Andy Purnomo adalah anggota DPRD Kabupaten Klaten dan tinggal di Klaten.

Sementara, anak keduanya, Dina Permatasari, tinggal di Riau. “Nanti mungkin mereka besuk ke tahanan kalau sudah dapat izin dari penyidik,” jelasnya.

Pantauan Tribun, istri Deddy Suwadi yang juga adik kandung Sri Hartini, tak henti-hentinya menangis saat kakaknya tersebut digiring petugas dari kantor KPK ke mobil tahanan.

“Tadi sudah kasih baju ganti. Padahal, dari pas kemarin juga sudah saya minta supaya dia bawa kopernya langsung,” ujar adik Sri Hartini yang berdiri di samping Deddy.

Dalam kesempatan ini, Deddy membantah perempuan muda bernama Nita Puspitarini yang juga turut ditangkap dari rumah dinas adalah anak Sri Hartini. Menurutnya, perempuan tersebut adalah ajudan Sri Hartini.

Sri Hartini, lahir di Sukoharjo, 16 November 1961; umur 55 tahun, adalah Bupati Klaten petahana yang menjabat pada periode 2016–2021. Sri Hartini dilantik bersama wakil bupati Klaten terpilih Sri Mulyani pada 17 Februari 2016, bersamaan dengan 17 kepala daerah terpilih olehGubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Lapangan Pancasila, kawasan Simpang Lima, Kota Semarang.

Tim KPK mengamankan delapan orang dalam OTT di rumah dinas Bupati Klaten Sri Hartini dan di rumah Sukarno, Klaten, Jawa Tengah, pada Jumat, 30 Desember 2016 kemarin.

Sebanyak tujuh orang ditangkap di rumah dinas Bupati Klaten yakni Sri Hartini (Bupati), Suramlan (PNS), Nita Puspitarini (PNS), Bambang Teguh (PNS), Slamet (PNS, Kabid Mutasi), Panca Wardhana (Staf Honorer) dan seorang swasta, Sunarso.

Dari rumah dinas tersebut, ditemukan barang bukti uang sebanyak Rp 2 miliar yang tersimpan dalam dua kardus besar serta 5.700 Dolar Amerika Serikat atau setara Rp76,6 juta dan 2.035 Dolar Singapura atau setara Rp18,9 juta di dompet.

Sementara dari rumah Sukarno, selain mengamankan pemilik rumah, juga disita barang bukti uang sebanyak 80 juta.

Temuan uang sejumlah Rp2,1 miliar dari sang bupati diduga terkait perdagangan atau jual beli jabatan di di lingkungan Pemkab Klaten.

Uang tersebut tidak berasal dari satu orang dan bukan untuk suap satu jabatan.

Pemkab Klaten sendiri dalam dua bulan terakhir tengah disibukkan dengan proses pengisian jabatan menyusul adanya Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah.

Dan Pemkab Klaten setidaknya melαkukαn pengisian jabatan berupa promosi dan mutasi sebanyak 850 jabatan eselon 2, 3 dan 4.

Adalah Kasi SMP Dinas Pendidikan Suramlan yang berperan sebagai pengepul uang-uang sogokan untuk sang bupati.

Rencananya sang bupati, Sri Hartini, akan melαkukαn pelantikan dan pengukuhan susunan organisasi tata kerja (SOTK) yang rencananya digelar pada Jumat (30/12/2016) malam.

Namun, agenda tersebut ditunda lantaran sang bupati terjaring OTT tim KPK karena dugaan menerima suap miliaran rupiah terkait pengisian jabatan tersebut. (*)

Baca Juga:3

Facebook Comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY